WARGA LANJUT USIA


Seekor anak ayam yang baru keluar dari telur mampu berjalan sendiri pada hari itu juga. Tidak lama kemudian ia pun mampu mencari makan sendiri. Ia tidak bergantung pada induknya.

Berbeda halnya dengan manusia. Mana mungkin seorang bayi yang baru lahir berjalan ke Supermarket dan mencari susu bubuk? Ia mutlak bergantung pada pertolongan orang lain.

Bagian akhir hidup juga begitu. Seekor ayam yang sudah tua bisa berjalan dan mencari makan sendiri. Tidak ada ayam tua yang perlu dipapah atau disuapi oleh anaknya.

Pada manusia keadaannya berbeda. Para lanjut usia (selanjutnya disingkat lansia) dalam banyak hal tergantung pada orang lain. Mereka perlu dibantu untuk menyeberang jalan dan membawa barang belanjaan. Apalagi jika di kemudian hari mereka menjadi jompo (=keadaan tua renta dengan kemampuan fisik yang sangat terbatas). Ada orang jompo yang tidak bisa turun lagi dari ranjang. Untuk minum pun mereka perlu dibantu.

Oleh sebab itu ada tahap yang riskan bagi para lansia untuk tinggal sendiri. Mereka bisa lupa memadamkan gas di dapur, terjatuh dari tangga ketika mengganti lampu atau tergelincir ketika menyiram kebun.

Jalan keluar yang lazim adalah tinggal di rumah anak. Namun ini tidak bisa terlaksana pada tiap orang. Jika anak tinggal di apartemen lantai 9, mungkin lansia merasa ngeri tinggal di gedung setinggi itu. Atau jika anak dipindahkan ke Kuwait, mana mungkin seorang lansia ikut pindah ke sana. Di lain pihak, bisa jadi orang lansia itu sendiri tidak mau tinggal di rumah anak karena mereka ingin bebas dan mandiri, sejauh itu masih memungkinkan.

Dalam keadaan itu, panti werda dapat menjadi jalan keluar. Namun ada beberapa salah pengertian tentang Panti Werda. Ada yang menganggap panti werda sebagai tempat pembuangan sehingga tinggal di situ dinilai aib. Ada yang menganggap panti werda sebagai panti jompo. Ada pula yang menganggapnya sebagai rumah miskin.

Yang memerlukan panti werda bukan hanya orang miskin, melainkan juga orang kaya. Sebab itu kelirulah jika gereja membangun panti werda mirip penampungan untuk pengungsi. Boleh saja jika pada awalnya kita membangun fasilitas untuk kelas menengah ke bawah, namun setelah itu perlu juga dibangun fasilitas taraf kelas menegah ke atas. Sama seperti rumah sakit, masakan yang tersedia hanya bangsal kelas IV? Bukankah kita juga  menyediakan kelas yang mahal? Sistem ini menjadi subsidi silang: pembayar tarif mahal mensubsidi  pembayar tarif murah.

Panti weda juga bukan hanya untuk para jompo. Ada suami-istri lansia yang masih sehat dan mandiri namun ingin tinggal di panti werda supaya terbebas dari beban mengurus bangunan rumah, seperti genteng bocor, pompa air rusak dan bayar pajak bangunan. Sebab itu mereka membeli sebuah apartemen dalam panti werda dengan perjanjian bahwa semua pemeliharaan menjadi tanggung jawab panti werda dan bahwa jika mereka meninggal, apartemen itu otomatis menjadi milik panti werda.

Oleh  karena itu, panti werda biasanya terdiri dari tiga tahap fasilitas. Pertama, tahap mandiri yaitu para lansia yang masih mengurus dapur sendiri. Kedua, tahap asrama, yaitu para lansia yang mondok bersama. Ketiga tahap perawatan yaitu para lansia yang jompo.

Mengelola panti werda tidaklah semudah yang kita duga. Acara di panti werda bukanlah sekedar kumpul lalu mengajak para opa dan oma nyanyi-nyanyi dan makan-makan. Pengelolaan panti werda memerlukan keterampilan proesional, paling tidak dari disiplin perawatan, penggembalaan, dan pendidikan. Cara gereja mengelola panti werda merupakan barometer kesaksian tentang bagaimana sikap gereja terhadap para lansia.

Dalam Dasa Titah terdapat perintah: ”Hormatilah ayahmu dan ibumu…….” (Kel. 20:12). Perintah ini bukan ditujukan kepada anak yang masih kecil melainkan kepada anak yang sudah dewasa, sebab Dasa Titah dialamatkan kepada orang dewasa. Jadi, ayah dan ibu di sini adalah ayah dan ibu yang sudah werda. Kata hormatilah (Ibr.: kabeed=menilai berat seperti dalam timbangan, menilai tinggi seperti dalam harga) di sini berarti mencukupkan kebutuhan para lansia.

Perhatikan pula ayat ini: ”……..engkau harus menaruh hormat (Ibr.: hadar=taat, respek) kapada orang yang tua dan engkau harus takut (Ibr.:yare=takwa, respek) akan Allahmu” (Im 19:32). Perhatikan betapa gamblangnya ayat ini. Di sini lansia disejajarkan dengan Allah. Respek kepada lansia sama seperti respek kepada Tuhan. Cuek kepada lansia sama seperti cuek kepada Tuhan. Apakah ayat ini masih kurang gamblang?

(Disadur dari : Selamat Berkiprah, Andar Ismail, 33 Renungan Tentang Kesaksian)

Diwartakan di GKI Ressud, pada bulan Keluarga, 2010-09-26

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: